Di sektor konstruksi, pertambangan, dan manufaktur berat, risiko cedera kepala menjadi ancaman serius yang dapat terjadi kapan saja akibat benda jatuh, benturan alat berat, atau kecelakaan kerja lainnya. Meskipun rambu “Kawasan Wajib Helm” sudah terpasang jelas, masih banyak pekerja yang menggunakan helm keras berbahan plastik biasa yang belum tentu mampu memberikan perlindungan optimal sesuai standar keselamatan kerja.
Penggunaan helm yang tidak memenuhi standar keselamatan berarti mempertaruhkan nyawa pekerja, sehingga pemilik bisnis dan praktisi K3 wajib memahami kriteria helm berkualitas demi menjamin keselamatan, keberlanjutan operasional, dan produktivitas tim di lapangan.
Kriteria Helm Pelindung Berkualitas untuk Pekerja Lapangan
1. Memenuhi Standar Nasional dan Internasional
Kriteria pertama dan paling mendasar dalam memilih helm pelindung adalah memastikan adanya sertifikasi keselamatan. Helm berkualitas harus memenuhi standar uji kekuatan tertentu, di mana produsen di Indonesia membubuhkan logo SNI dan mengemboskan tanda tersebut langsung pada cangkang helm guna menjamin keaslian serta kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Selain standar nasional, banyak perusahaan juga mengacu pada sertifikasi internasional seperti ANSI/ISEA Z89.1 dari Amerika Serikat atau EN 397 dari Eropa. Sertifikasi ini memastikan helm telah melewati serangkaian pengujian ekstrem mulai dari benturan, tusukan benda tajam, hingga ketahanan terhadap arus listrik sehingga penting untuk membeli produk dari distributor terpercaya atau langsung melalui toko peralatan safety di Jakarta agar keaslian sertifikasinya terjamin.
2. Material Cangkang (Outer Shell) yang Tangguh
Helm berkualitas biasanya terbuat dari dua material utama:
-
High-Density Polyethylene (HDPE): Material ini paling umum digunakan karena memiliki keseimbangan yang baik antara bobot yang ringan dan kekuatan benturan yang tinggi.
-
Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS): Material ini lebih kaku dan tahan terhadap goresan serta benturan yang lebih keras dibandingkan HDPE. Helm berbahan ABS biasanya memiliki daya tahan yang lebih lama di bawah paparan sinar matahari langsung.
Helm berkualitas memiliki permukaan yang halus tanpa retakan atau cacat produksi. Desain “V-Gard” atau lengkungan di bagian atas helm berfungsi untuk membelokkan benda jatuh agar tidak menghantam langsung tepat di puncak kepala.
3. Sistem Suspensi yang Efektif
Jika Anda melihat bagian dalam helm pelindung, akan terlihat jaring berbahan tali atau plastik yang disebut sistem suspensi. Komponen ini berfungsi menjaga jarak aman antara cangkang helm dan tengkorak kepala pekerja, umumnya sekitar 25–30 mm, sehingga kepala tidak langsung bersentuhan dengan bagian keras helm.
Ketika benda jatuh menghantam helm, cangkang luar langsung menerima benturan pertama, lalu sistem suspensi menyerap dan menyebarkan energi benturan agar tidak langsung mengenai kepala, leher, dan tulang belakang. Produsen helm berkualitas umumnya menerapkan sistem suspensi dengan 4 hingga 6 titik tumpu yang memungkinkan penyesuaian, sehingga pengguna dapat mengatur ukuran helm agar lebih stabil, merasakan kenyamanan saat menggunakannya, dan mendapatkan perlindungan secara optimal.
4. Perlindungan Berdasarkan Klasifikasi Listrik
Pekerja yang bekerja di area konstruksi sering menghadapi risiko kontak langsung dengan kabel bertegangan tinggi, sehingga mereka tidak boleh menganggap perlindungan kepala sebagai hal sepele. Untuk menjawab risiko tersebut, produsen helm pelindung mengklasifikasikan produk mereka ke dalam tiga kelas utama berdasarkan kemampuan masing-masing dalam menahan dan mengisolasi arus listrik.
Namun, pekerja tidak bisa hanya mengandalkan helm untuk menjaga keselamatan kerja, terutama saat bekerja di area dengan tingkat bahaya tinggi. Pekerja perlu melindungi kaki dengan menggunakan sepatu satpam yang dilengkapi steel toe cap agar mampu menahan paku, benda tajam, serta material berat yang berpotensi jatuh selama proses kerja.
Tabel Klasifikasi Helm Safety Berdasarkan Perlindungan Listrik
| Kelas | Kode | Kemampuan Perlindungan | Cocok Untuk |
| General | G | Melindungi hingga 2.200 Volt | Pekerja umum di konstruksi |
| Electrical | E | Melindungi hingga 20.000 Volt | Teknisi listrik, PLN, area tegangan tinggi |
| Conductive | C | Tidak melindungi dari listrik | Pekerja yang tidak berisiko tersengat listrik |
5. Ergonomi dan Kenyamanan Penggunaan
Helm yang tidak nyaman sering membuat pekerja tergoda untuk melepasnya saat bekerja, dan pada momen inilah risiko kecelakaan justru paling tinggi terjadi. Karena itu, produsen helm pelindung yang berkualitas merancang helm dengan bobot seimbang, tidak terasa berat di satu sisi, serta melengkapinya dengan ventilasi udara yang memadai untuk digunakan di area kerja panas, selama penggunaannya tidak berisiko terkena percikan bahan kimia atau paparan arus listrik.
Selain itu, keberadaan bantalan keringat di bagian dahi berperan penting dalam menjaga kenyamanan, karena membantu menyerap keringat agar tidak mengalir ke mata dan mengganggu konsentrasi kerja. Kombinasi kacamata kerja berdesain khusus dan helm akan memaksimalkan perlindungan ini, karena pengguna dapat mengenakan keduanya sekaligus tanpa khawatir alat tersebut saling menggeser atau kehilangan fungsinya.
6. Memahami Kode Warna Helm di Lapangan
Meskipun tidak mengaturnya secara baku, pelaku industri biasanya menggunakan kode warna untuk membedakan fungsi dan jabatan pekerja di lapangan. Kode warna ini sangat membantu tim dalam mempercepat proses evakuasi maupun mempermudah koordinasi pada proyek berskala besar.
-
Putih: Manajer, Insinyur, atau Tamu Perusahaan biasanya mengenakan helm putih.
-
Kuning: Pekerja umum atau operator alat berat memakai helm kuning.
-
Biru: Kontraktor listrik atau pengawas lapangan (supervisor) menggunakan helm biru.
-
Hijau: Petugas keamanan lingkungan atau tim K3 (Safety Officer) mengenakan helm hijau.
-
Merah: Tim pemadam kebakaran atau penanggung jawab keselamatan kebakaran memakai helm merah.
FAQ
Apakah helm safety memiliki masa kedaluwarsa?
Ya. Umumnya, masa pakai helm safety adalah 2 hingga 5 tahun tergantung material dan paparan sinar UV. Jika helm sering terkena panas matahari ekstrem atau bahan kimia, plastiknya akan menjadi getas (mudah pecah).
Bolehkah helm yang pernah terkena benturan keras digunakan kembali?

